Berlomba dalam Kebajikan


18 shape Jul

Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai tanah yang subur. Apa pun yang Anda tabur akan tumbuh subur, kendati Anda tidak menaburi lahan dengan pupuk atau benih yang Anda tanam kurang berkualitas. Karena suburnya, kendati Anda tidak menabur lahan itu pun akan dipenuhi oleh alang-alang.

Ada juga yang mengibaratkan bulan suci itu sebagai bulan sale (obral) yang supermarket-nya terdapat di mana-mana serta terbuka sepanjang saat, menawarkan aneka komoditas dengan harga yang sangat sangat murah. Yang dibutuhkan untuk meraihnya hanya melangkah satu-dua langkah. Bahkan menampakkan keinginan pun—walau tidak melangkah—dapat mengundang pemilik supermarket mengirimkan sekian banyak hadiah untuk merangsang Anda melangkah ke sana. Dalam bahasa agama, keinginan tersebut dinamai niat yang tulus untuk berbuat kebajikan.

Banyak alternatif kebajikan yang dapat dilakukan di bulan suci ini. Anda tidak perlu terlalu sedih jika salah satu yang diinginkan tidak dapat Anda lakukan karena satu dan lain hal. Saudara perempuanku, Anda  tidak perlu kecewa tidak berpuasa atau mengaji karena tamu bulanan mengunjungi Anda.

Namun demikian, kendati banyak lapangan kebajikan, mengamalkan apa yang disukai Allah dan memilih prioritas amalan adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, walau ini bukan berarti hanya berkonsentrasi penuh dalam amalan tersebut. Dalam berinteraksi dengan Allah, walaupun semua  menguntungkan, tidak ada istilah high atau low risk—selama memenuhi kriteria yang ditetapkan-Nya—namun bisa jadi ada situasi yang menjadikan jenis amalan tertentu lebih menguntungkan saat ini ketimbang saat lain. Di sinilah diperlukan kearifan dan perlombaan untuk saling mendahului.

Perlombaan/persaingan dalam kebajikan berbeda dengan persaingan dalam dunia bisnis karena apa yang terhampar di alam raya ini sangat terbatas dibanding dengan apa yang terdapat di sisi Allah. Bahkan bisa jadi, dalam dunia bisnis yang diperebutkan hanya satu tanpa ganti, apalagi jika pandangan hanya tertuju kepada sekarang dan di sini.

Ini berbeda dari berinteraksi dengan Allah, yang bukan saja lapangan pengabdian kepada-Nya tidak terbatas, tetapi juga karena pandangan mestinya tidak hanya di sini dan sekarang, tetapi juga nanti dan masa mendatang di akhirat sana. Apa yang di sisi kamu akan habis/lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. an-Nahl [16]: 96).

Allah memerintahkan berlomba dan bersaing dalam kebajikan (QS. al-Baqarah [2]: 148). Setelah memperhatikan sekian banyak tuntunan agama, para ulama merumuskan bahwa la itsâra fî al-qurbah/Tidak perlu mengalah dalam hal upaya mendekatkan diri kepada Allah. Ini karena lapangan pengabdian kepada-Nya amat luas tidak terbatas sehingga jika Anda mempertahankan upaya pengabdian yang Anda pilih, maka pihak lain seandainya tidak memperoleh kesempatan yang sama, masih dapat menemukan lapangan lain yang tidak kurang nilainya dengan apa yang Anda lakukan.

Memang, jika lapangan pengabdian tersebut oleh satu dan lain hal menjadi terbatas, sedang ia amat dibutuhkan oleh pihak lain, maka di sini akhlak Islam menganjurkan untuk memberi kesempatan atau mengalah kepadanya. Ketika itu, yang mengalah akan dianugerahi tidak kurang dari apa yang mestinya dapat ia peroleh atau apa yang diperoleh oleh siapa yang diberinya kesempatan itu dan dalam saat yang sama, yang memberi dapat melakukan pengabdian lain yang tidak kurang nilainya dari apa yang direncanakannya semula. Demikian, wa Allâh A’lam.


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media