Ibu


22 shape Dec

Ibu—Mama, Mami, Mak, atau apa pun kata yang digunakan manusia untuk memanggil  siapa yang melahirkannnya—kesemuanya merupakan kata panggilan yang paling mesra dan tulus yang dikenal oleh umat manusia.

Ibu adalah belasungkawa ketika anak sedih, harapan ketika asanya putus, kekuatan ketika kelemahannya tampil. Yang kehilangan ibu kehilangan dada tempat bersandar, tangan yang membelai, dan mata yang penuh kasih memandang dan menjaga.

Sekian banyak kata yang telah diketahui manusia, sekian banyak kalimat yang telah disusunnya, sekian banyak bahasa dan peribahasa yang pernah diucapkan, bahkan diketahui. Namun, tetap saja itu semua belum cukup untuk  menggambarkan bagaimana kasih sayang, pembelaan, dan pengorbanan ibu bagi anak-anaknya.

Dapatkah persembahan ibu kepada anaknya dinamai cinta atau dorongan naluri? Kalau menanyakan kepada “rasa”, maka jawabannya: Tidak. Walau pikir boleh jadi mengiyakan. Mengapa tidak? Karena persembahan ibu lebih daripada cinta. Bukankah cinta dapat layu? Bukan juga sekadar dorongan karena ia pasti mewujud walau tanpa dorongan.

Dapatkah ia dinamai kasih sayang? Ini pun belum cukup karena persembahannya melampaui batas kasih. Dapatkah itu dinamai pengorbanan? Tidak juga karena dalam pengorbanan ada sedikit kepahitan, sedang pengorbanan ibu terasa manis olehnya, manis begitu melihat mata anaknya disentuh oleh  sikap ibunya yang dinamai “pengorbanan” itu.

Sebaliknya, apa yang dipersembahkan anak kepada ibunya tiada artinya setelah perut ibu menjadi tempat tumbuh anak. Payudaranya menjadi wadah minumnya, bahkan minumannya, dan pelukannya menjadi selimut yang menghangatkannya. Ia menahan kantuk ketika anaknya sakit, berbisik ketika anaknya tidur, dan memberinya makan ketika anaknya lapar, kendati ia sendiri lapar.

Tiada bantal yang lebih empuk dan lebih nyaman daripada dada ibuku, denyut jantungnya adalah ketukan-ketukan yang membuaiku, nyanyiannya adalah musik yang menidurkanku. Aku walau telah dewasa, masih kecil jika berhadapan dengannya. Ketika tua pun aku masih kanak-kanak saat bersamanya. Aku masih senang berada di pembaringannya walau aku telah berumah tangga. Aku merengek tanpa malu, aku menciumnya tanpa puas, aku berlutut dengan bangga di hadapannya. Setelah kepergiannya menemui Tuhan pun bayangannya masih saja berbekas dan suaranya masih mengiang di telingaku.

Jika demikian, sungguh wajar kitab suci menggandengkan perintah patuh kepada Allah dengan perintah bakti—sekali  lagi bakti, bukan sekadar patuh—kepada orangtua. Sungguh tepat ketika Nabi Muhammad saw. menyebut ibu, lalu ibu, lalu ibu baru kemudian ayah. Sungguh bermakna ungkapan yang dinisbahkan kepada Nabi saw.: “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Semoga kita dapat berbakti kepada ibu saat hidup dan setelah kepergiannya. Amin.

Demikian , wa Allah A’lam.


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media