Kabinet


24 shape Oct

Alhamdulillah Kabinet akan segera diumumkan. Menteri-menteri pun segera melangkah. Dalam konteks pemilihan pembantu-pembantu Presiden itu, kita teringat salah satu sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan, antara lain oleh Imam Bukhari yang menyatakan: Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, tidak juga menetapkan khalifah atau pemimpin masyarakat, kecuali ada dalam lingkarannya, teman-teman yang mengajaknya kepada kebaikan atau teman-teman yang mengajaknya kepada keburukan. Yang terpelihara adalah yang dipelihara oleh Allah. 

Pada saat lain Nabi bersabda: Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang penguasa maka menterinya yang terpilih adalah menteri yang jujur sehingga apabila sang penguasa lupa, dia mengingatkannya, dan bila dia mengingatkannya, dia membantunya, tapi jika Allah menghendaki sebaliknya, maka sang penguasa memilih menteri yang bejat. Kalau dia lupa menterinya tidak mengingatkannya dan kalaupun mengingatkannya dia tidak membantunya. Memang salah satu sebab utama dari keruntuhan bangsa-bangsa adalah karena siapa yang di sekeliling penguasa, mereka hanya menyampaikan yang suka didengar oleh sang penguasa sambil mengeruk sebanyak mungkin kemaslahatan pribadi. Hal ini akan menjadi lebih buruk, kalau sang penguasa tidak “turun” ke lapangan  dan melakukan blusukan atau memasang “tabir” yang menghalangi dirinya dari  masyarakatnya.

Dalam bahasa al-Qur’an, menteri dinamai wazir. Asal katanya berarti mantap, berat, kokoh, dan kuat. Dari huruf-huruf yang sama, lahir kata yang bermakna dosa. Jika demikian, yang dinamai  wazir/menteri haruslah yang memiliki bobot yang kuat, kepribadian yang mantap dan kokoh. Di sisi lain, jabatan tersebut adalah jabatan yang berat, bukan saja tugas-tugasnya, tetapi juga tanggung jawabnya di akhirat kelak. “Sesungguhnya jabatan adalah amanah. Ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan di Hari Kemudian, kecuali yang menerimanya secara benar dan menunaikannya dengan baik,” demikian sabda Nabi saw.

Kita biasa mendengar ucapan dari sementara yang diserahi amanat jabatan: “A’udzu billah/Aku berlindung kepada Allah.” Saya heran mendengar ucapan itu dari yang menerimanya karena ini mengesankan bahwa pengucapnya memohon perlindungan Allah dari jabatan itu, seakan-akan ia terpaksa menerimanya atau seakan-akan dia sadar tidak mampu melaksanakannya. Kalau memang demikian, mengapa ia tidak menolak sejak semula? Mestinya sambil menerimanya, ia memohon bantuan Allah agar dapat menunaikan amanah itu dengan sempurna. Mestinya ia melangkah dengan kerendahan hati kepada-Nya, sambil menjadikan jabatannya itu jembatan antara dirinya, bukan saja dengan yang berada di lingkungannya, tetapi dengan seluruh anggota masyarakatnya. Membuka diri, mata, dan telinganya untuk mengenal keluhan dan kebutuhan masyarakatnya. Mereka itulah—bila tiba saatnya,  yang pasti akan dialaminya, yakni jabatan ia tinggalkan atau meninggalkannya—maka masyarakat “menangis” karena mengenang dan merindukannya. Dalam sejarah bangsa kita, ada orang-orang yang demikian itu sifat dan sikapnya.

Dalam sejarah masyarakat manusia dikenal  juga “orang-orang” yang dengan jabatan yang disandangnya bermunculan dorongan nafsu yang tidak pernah puas, seperti keinginan dihormati dan dipuja,  memperkaya diri dan keluarga, dan menjadikan jabatan sebagai alat untuk menyingkirkan siapa pun yang pernah dan diduganya akan berbeda dengannya serta menutup telinganya dari setiap kritik walau membangun.

Semoga masyarakat kita terhindar dari pejabat semacam ini. Amin.


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media