Keputusan Mahkamah Konstitusi


19 shape Aug

Ada satu peristiwa dan sedikitnya satu ayat dalam al-Qur’an yang hadir ke benak penulis saat menantikan keputusan Makhkamah Konstitusi menyangkut apa yang dipersengketakan antara pasangan Capres dan Cawapres No. 1 dan No. 2.

Peristiwa yang saya maksud adalah sengketa Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia. Pada mulanya, Indonesia ingin masalah ini diselesaikan melalui Dewan Tinggi Asean, namun ditolak oleh Malaysia, lalu setelah berlarut, Indonesia menyetujui untuk diselesaikan melalui  Mahkamah International (ICJ). Pendek cerita, pada bulan Desember 2002 keluar keputusan Mahkamah International itu memenangkan Malaysia dengan dukungan 16 hakim, sementara hanya satu orang yang berpihak kepada Indonesia.

Bagaimana sikap kita menghadapi putusan itu? Indonesia menerimanya karena sebelumnya kita telah memercayakan kepada ICJ untuk memutuskan, dan itulah putusannya yang harus kita terima. Tentu kita kecewa, tapi sekali lagi itu konsekuensi dari kesediaan kita menyerahkan kepada Mahkamah International itu. Indonesia menerimanya karena itulah sikap kesatria yang selalu mengaitkan segala sesuatu–termasuk masalah hukum–dengan moral.

Ayat al-Qur’an yang hadir ke benak penulis adalah firman-Nya dalam QS. an-Nisâ’ [4]: 65, yang menyatakan: Demi Tuhanmu, (wahai Nabi Muhammad) mereka tidak dianggap beriman (dan tunduk kepada kebenaran), sebelum mereka menjadikanmu sebagai hakim yang memutuskan persengketaan yang timbul di antara mereka, lalu mereka  tidak mendapatkan rasa keberatan dalam hati mereka menyangkut keputusan yang engkau ambil, lagi  tunduk setunduk-tunduknya.

Logika ayat ini yang menetapkan keharusan menerima, bahkan tidak keberatan sedikitpun atas putusan Nabi itu adalah karena seorang mukmin harus percaya kepada beliau; Percaya bahwa  beliau bersikap adil, lagi mengetahui duduk persoalan, sehingga sang mukmin yang menyerahkan persoalan kepada beliau tidak memunyai pilihan, kecuali menerima, dan  karena itulah yang adil dan tepat. Menolak putusan itu berarti meragukan keadilan dan pengetahuan beliau. Kalau menolak, maka semestinya sejak semula tidak menyerahkan penyelesaian persoalan yang diperselisihkan kepada beliau. Sama halnya dengan sikap kita menyerahkan sengketa Sipadan dan Ligitan ke Mahkamah International.

Mahkamah Konstitusi merupakan jalan untuk menyelesaikan sengketa. Siapa pun yang mengajukan permohonan kepadanya dalam rangka menggugat, demikian juga yang menyatakan kesediaan menerima penyelesaian sengketanya melalui Mahkamah tersebut, tentu saja berkeyakinan bahwa lembaga negara itu bersikap independen, dan wajar dipercaya.  Karena kalau sejak semula ada keraguan, maka tentu saja pemohon tidak akan  mengajukan persoalan kepadanya dan atau tidak akan menerimanya sebagai jalan penyelesaian.

Itulah dua hal yang terbetik dalam benak penulis menantikan putusan Mahkamah Konstitusi. Karena itu pula, penulis optimis bahwa kita semua sebagai anak bangsa akan menerima putusannya, baik  sejalan dengan keinginan kita maupun tidak. Apalagi itu tanda keluhuran budi dan moral yang tinggi. Demikian. Semoga Allah memelihara persatuan dan kesatuan kita. Amin.


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media