Obat dan Penyembuhan


07 shape Oct

Dalam al-Qur’an dan Sunnah ditemukan sekian banyak teks yang berbicara tentang penyakit dan pengobatan. Salah satu yang sangat populer adalah firman-Nya, membenarkan ucapan Nabi Ibrahim as.: Wa idzâ maridhtu fahuwa yasyfîni. Bila aku sakit, maka Allah yang menyembuhkanku (QS. asy-Syu’arâ’ [26]: 80). Firman-Nya ini mengisyaratkan paling tidak dua hal.

Pertama: “Bila aku sakit” mengandung makna bahwa penyakit—yang diderita—terjadi karena kesalahan manusia, baik langsung maupun tidak. Kesalahan itu antara lain karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan sistem yang ditetapkan-Nya. Dari sini ditemukan tuntunan yang berkaitan dengan aneka kegiatan yang fungsinya pencegahan. Misalnya pemeliharaan kebersihan, memasak air yang akan diminum, kadar makanan yang dikonsumi, serta perlunya makan secara proporsional dan bergizi.

Kedua:  “Allah yang menyembuhkanku”  menunjuk Penyembuh yang sebenarnya. Tangan dokter, obat, atau aneka cara penyembuhan hanyalah satu dari sekian sebab. Allah adalah Pencipta aneka sebab dan Yang Mahakuasa menghimpunnya.

Bahwa Allah Penyembuh bukan berarti manusia boleh berpangku tangan. Manusia harus berusaha menemukan sebab-sebab penyembuhan. Nabi saw. berkali-kali memerintahkan berobat dan mencari cara pengobatan yang tepat. Sabda beliau: “Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkankan obatnya. Obat itu diketahui oleh yang (berhasil) mengetahuinya dan tidak diketahui oleh yang gagal menemukannya.”

Nabi saw. pun tidak jarang memberi saran dalam rangka pengobatan. “Pengobatan” Rasul saw. itu bukanlah sesuatu yang baku atau harus diikuti karena saran-saran tersebut lahir dari pengalaman pengobatan pada masa beliau, yang tentu saja dapat berkembang berkat pengalaman baru dan penelitian sesudah masa beliau. Mengikuti perkembangan modern dalam pengobatan—selama tujuannya memelihara kehidupan—adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.

Allah memerintahkan kita untuk tolong-menolong dalam kebaikan (QS. al-Mâidah [5]: 2). Ini adalah yang berada dalam wilayah kemampuan manusia serta dalam batas hukum-hukum sebab dan akibat yang ditetapkan-Nya itu. Dokter, bukan petani, yang mestinya dimintai bantuan guna penyembuhan karena dokter banyak mengetahui hukum sebab dan akibat yang berkaitan dengan penyakit dan pengobatan. Tapi sekali lagi harus diingat bahwa yang mengantar sebab menghasilkan akibat adalah Allah sendiri, setelah sebelumnya Dia sendiri juga yang menetapkan hukum dan sistem berlakunya.

Tidak jarang tim dokter telah “menyerah”, bahkan telah  memperkirakan batas waktu kemampuan pasien bertahan hidup, namun dugaan mereka meleset, bahkan si pasien tak lama kemudian segar bugar. Inilah yang dinamai ‘Inâyatullah, yakni pemeliharaan/pertolongan Allah yang berada di luar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku.

Tidak ada alasan logika meragukan adanya Inâyatullah ini karena tak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dengan peristiwa yang terjadi berulang-ulang, selama kita percaya  bahwa yang mewujudkannya adalah Allah swt.

Atas dasar itu pula, maka doa merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh dalam pengobatan. Alexis Carrel, peraih hadiah Nobel bidang kedokteran, menulis dalam bukunya Pray bahwa: “Sangat sulit mengetahui apa di balik kesembuhan tanpa pengobatan, demikian juga faktor hakiki penyembuhan akibat penggunaan obat-obat tertentu, kendati banyak  pasien yang benar-benar mengalami kesembuhan sempurna berkat perasaan yang tulus dan melalui doa.”

Karena itu, jika berobat atau mengobati, jangan tidak berdoa. Jangan juga kalau ada obat atau cara pengobatan yang dinilai telah gagal—katakanlah penggunaan life support machine—jangan menghabiskan waktu dan menghamburkan uang melanjutkannya. Jangan ragu mencari alternatif lain, salah satunya adalah berdoa dengan tulus, selama semua kemampuan berusaha telah dilakukan dan selama tidak bermaksud mengakhiri hidup seseorang. Demikian, wa Allah A’lam.


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media