Pemahaman Jihad dalam Perspektif Islam di Indonesia*


01 shape May

Dalam al-Qur’an, kata jihad dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 41 kali. Umumnya bermakna upaya sungguh-sungguh menjelaskan nilai-nilai ajaran Islam serta membelanya. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud oleh al-Qur’an dan Sunnah dengan jihad adalah berjuang menggunakan segala kemampuan dan daya yang dimiliki untuk menghadapi segala macam musuh Islam dan musuh kemanusiaan dalam berbagai bidang, segala macam keburukan atau yang mengantar kepada keburukan. Setiap Muslim berkewajiban melawan nafsu setan, kebodohan, penyakit, kemiskinan dan lain-lain. Ini berarti bahwa setiap Muslim wajib berjihad sepanjang hayatnya. Ini demikian karena manusia memiliki dalam dirinya potensi negatif dan positif. Dunia adalah arena pertarungan antara kebaikan dan keburukan sehingga dengan demikian jihad harus dilakukan sepanjang hayat dan jihad harus berlanjut sampai kiamat karena keburukan selalu ada dan beraneka ragam.

Jihad dan Ijtihad

Pada masa kejayaan Islam, jihad dalam berbagai bidang itu terlaksana dengan baik serta didukung oleh apa yang dinamai ijtihad, yang secara umum dapat diartikan sebagai upaya berpikir secara sungguh-sungguh guna menemukan solusi keagamaan/hukum untuk aneka masalah yang dihadapi umat/masyarakat. Tetapi ketika kelemahan intelektual muncul dan kesimpang-siuran fatwa merajalela sehingga membingungkan umat, lahirlah ide menutup pintu ijtihad. Sehingga, ketika itu hampir tidak ada lagi ide-ide baru yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Nah, ketika itu terjadi, kepincangan antara kekuatan fisik negara dengan akal, antara pedang dan pena. Salah satu akibatnya adalah mengerdilkan makna jihad menjadi kekuatan fisik dan pertempuran semata-mata, tidak lagi dipahami sebagai upaya sungguh-sungguh menghadapi aneka musuh agama dan kemanusiaan.

Dampak dari kenyataan di atas terlihat, antara lain pada bangkitnya upaya memurnikan agama dan mempertahankan apa yang diamalkan oleh Rasul saw. dan sahabat-sahabat beliau. Mereka menolak pembaharuan, bahkan mengabaikan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh ulama-ulama―masa lampau sekalipun―yang menyatakan bahwa ketetapan hukum harus mempertimbangkan ‘illat/sebab ditetapkannya sehingga jika ‘illat-nya tidak ada lagi, maka hukum pun tidak berlaku lagi.

Sebagai contoh, patung-patung dilarang karena dahulu ia disembah, sehingga kini jika tidak disembah lagi, maka mestinya yang ada tidak harus dihancurkan. Inilah yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi saw., antara lain oleh mereka yang ke Mesir yang hingga kini patung-patung tersebut terpelihara dengan baik. Menurut para pemurni agama itu, “Agama telah sempurna. Semua telah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasul saw. sehingga semua yang tidak beliau lakukan dan atau tidak dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau adalah bid’ah yang harus dilarang. Mereka bermaksud mengembalikan masyarakat Islam ke masa Nabi saw. dan sahabat-sahabat beliau yang mereka nilai bahwa itulah masa keemasan Islam yang diperjuangkan dengan jihad dalam maknanya yang terbatas. Kekhalifahan harus dikembalikan tanpa mempertimbangkan berkembang dan mantapnya paham Nasionalisme di seluruh persada bumi. Menghormati bendera adalah syirik, Pancasila adalah kekufuran, patung-patung bersejarah harus dihancurkan, perempuan harus sangat dibatasi kegiatannya dan bisa jadi ada yang berkata: Poligami harus digalakkan karena Nabi saw. berpoligami dan lain sebagainya. Ini berarti bahwa dasar-dasar kehidupan masyarakat yang diajarkan Islam dan yang diterapkan untuk runtuh. Kebhinekaan dihapus, candi-candi dan gereja-gereja dihancurkan. Sikap semacam itu bukanlah isapan jempol, tetapi benar-benar terbukti dalam kenyataan di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh ISIS Al-Qaedah di Timur Tengah dan Boko Haram di Nigeria.

Persoalan tidak akan terlalu parah jika pandangan mereka itu tidak disertai dengan semangat menggebu-gebu untuk memperjuangkannya dengan berbagai cara kekerasan. Gejala-gejala semacam itu mulai amat terasa dan terlihat di Indonesia, antara lain dengan bermunculannya aneka tulisan, lebih-lebih melalui dunia maya yang menghidangkan kekerasan serta gencarnya secara tuduhan dan fitnah terhadap sekian banyak tokoh yang tidak sepaham dengan mereka. Padahal tokoh tersebut tidak melakukan, kecuali mengajak umat bersikap berpegang teguh dengan pandangan mayoritas umat Islam sedunia, serta bersikap toleran dan menghormati semua pendapat selama pendapat tersebut bercirikan kedamaian. Tentu saja penghormatan itu tidak otomatis berarti menerimanya.

Pages: 1 2 3


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media