Pemahaman Jihad dalam Perspektif Islam di Indonesia*


01 shape May

Jihad dan Mujahadah

Mereka yang menyalahpahami pengertian jihad sebagaimana yang diajarkan Islam, sering kali juga melupakan syarat mutlak bagi tegaknya jihad dalam berbagai ragam dan aspeknya, yakni apa yang diistilahkan dengan mujahadah.

Mujahadah adalah upaya menekan gejolak nafsu dan aneka rayuan yang dapat mengalihkan seseorang dari tujuan yang benar. Mujahadah dibutuhkan setiap saat, termasuk ketika melaksanakan jihad, lebih-lebih dalam konteks pertempuran. Ia dibutuhkan sebelum, pada saat, dan sesudah pertempuran. Sebelum pertempuran, sang mujahid dituntut memahami dan menghayati tujuan sambil membentengi jiwanya dari aneka ambisi duniawi, kepentingan pribadi atau kelompok. Saat pertempuran ia harus selalu mengingat tujuan pertempuran sehingga ia tidak terdorong untuk melakukannya akibat dendam pribadi serta bersedia segera menghentikannya jika tujuan telah tercapai atau jika tujuan telah menyimpang dari apa yang dibenarkan agama. Sedang setelah usainya pertempuran, ia masih dituntut untuk terus memelihara hatinya agar jangan sampai kemenangan menjadikannya angkuh atau berlaku sewenang-wenang terhadap pihak lain.

 Kesalahpahaman tentang Makna Jihad

Kesalahpahaman tentang makna jihad itu diperparah juga melalui sekian banyak kitab, bahkan melalui terjemahan beberapa ayat al-Qur’an. Misalnya kata qitâl tidak jarang mereka pahami dalam arti pembunuhan, padahal kata itu bermakna peperangan/kutukan, sikap tegas yang tidak selalu mengakibatkan pembunuhan. Kata anfusikum diartikan sebagai jiwa/nyawa, padahal ia berarti seluruh totalitas manusia, yakni nyawa, atau fisik, ilmu, tenaga, pikiran, bahkan waktu karena semua hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari totalitas manusia.

Para Radikalist itu memahami iman sebagai pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. disertai dengan pengamalannya sehingga menurut mereka seseorang tidaklah dinilai beriman apabila tidak melaksanakan ajaran Islam secara baik dan benar. Mereka menilai bahwa kemusyrikan bukan sekadar keyakinan tentang berbilangnya Tuhan, tetapi juga yang mengakui keesaan-Nya tanpa mengamalkan syariat adalah seorang yang boleh dibunuh. Tulisan menyangkut ide di atas ditemukan, antara lain dalam buku yang tersebar di sekian banyak sekolah di Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Mereka mengumandangkan bahwa “La hukma illâ lillâh”. Semua pemerintahan yang tidak menetapkan hukum berdasar ketentuan Allah adalah Thagût (melampaui batas ajaran Islam) dan dinilai kafir, lagi harus diperangi. Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Pemerintahannya pun mereka nilai Thagût/Tirani dan kafir. Mereka merujuk pada firman Allah: “Siapa yang tidak menetapkan sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir) QS. al-Mâ’idah [5]: 44). Kekeliruan mereka menurut para pakar di bidang al-Qur’an dan Sunnah adalah memahami kata kafir dalam arti sempit, padahal al-Qur’an menggunakan kata itu untuk berbagai makna, seperti “tidak bersyukur” (QS. Ibrâhîm [14]: 7) atau “berpecah belah” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 106). Memang kekufuran beraneka ragam dan bertingkat-tingkat sehingga pada akhirnya kekufuran dapat disimpulkan dalam arti melakukan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai/tujuan. Puncaknya adalah mengingkari wujud/Keesaan Allah, dan inilah yang menjadikan seseorang dinilai keluar dari agama, itu pun tidak serta merta harus dibunuh.

Pemimpin Tertinggi Al-Azhar dewasa ini (sejak 2010 M), Syaikh Ahmad ath-Thayyib, dalam makalahnya yang disampaikan pada Muktamar Al-Azhar menghadapi ekstremisme dan terorisme (Desember 2014 M), menyatakan bahwa: “Kelompok Pengafiran modern pada mulanya lahir di penjara-penjara dan tahanan-tahanan, didorong oleh siasat penyiksaan yang diperlakukan terhadap pemuda-pemuda yang bergabung dengan pergerakan-pergerakan Islam. Mereka dituntut―ketika itu―(sebelum 1967 M) untuk mengumumkan dukungan mereka terhadap penguasa. Nah, ketika itu sebagian besar bersegera menandatangi surat dukungan, tetapi sebagian kecil menolak dan menilai sikap mereka yang mendukung itu adalah sikap lemah dan menghindari pembelaan agama. Mereka bertahan dalam pendiriannya dan berkeras mempertahankan sikap penolakan. Lalu berberapa waktu kemudian, mereka menjauh dari teman-teman mereka yang mendukung itu dan menyatakan bahwa teman-teman mereka itu telah kafir karena mendukung penguasa kafir. Mereka juga menilai masyarakat dengan semua anggotanya telah kafir karena mendukung penguasa kafir. Tidak ada gunanya shalat, tidak juga puasa bagi mereka yang mendukung penguasa. Cara untuk keluar dari kekufuran adalah bergabung dengan para “mujahidin”. Inilah awal dari kemunculan kelompok Pengafiran setelah kelompok al-Khawarij (masa lalu) terbenam ditelan sejarah. Demikianlah lahir fenomena pengafiran baru melalui pemuda-pemuda yang tidak memiliki kemampuan ilmiah dan budaya―kecuali semangat―dan reaksi yang tidak tepat serta balas dendam si lemah atas penyiksa yang sewenang-wenang. Mereka melakukan pengafiran karena itulah cara yang tercepat untuk melukiskan keadaan mereka yang pahit itu.

Jadi, radikalisme dan pengafiran bukan atas dasar pemikiran yang sehat, atau argumen keagamaan yang sahih, tetapi semata-mata keinginan balas dendam. Itu kemudian disambut dengan antusias oleh mereka yang tidak paham agama dan tergiur oleh janji-janji perolehan surga serta sambutan bidadari-bidadari.

Demikian sedikit yang dapat diuraikan menyangkut makna jihad dan implikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Wa Allâh A’lam.

*Disampaikan dalam Sarasehan Formpimda dengan seluruh elemen masyarakat daerah Jawa Timur oleh Kapolda Jatim pada 21 April 2015 di Surabaya.

Pages: 1 2 3


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media