Pesan untuk Para Pemimpin


19 shape Oct

Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla,

Izinkanlah saya menyampaikan taushiyah kepada Bapak berdua. Taushiyah yang pernah disampaikan oleh sekian orang bijak kepada sekian kepala pemerintahan. Saya menyampaikannya bukan karena menduga Bapak tidak tahu,  tidak juga merasa bahwa Bapak akan melakukan hal buruk, tapi sekadar mengingatkan karena manusia di tengah kesibukannya atau semangatnya yang menggebu sering kali lengah atau lupa.

Pak Jokowi dan Pak JK,

Ingatlah—ketika Bapak berdua—besok  Insya Allah diangkat sebagai kepala negara dan wakil kepala negara, bahwa  Allah swt. merestui seseorang menjadi imam/kepala negara dengan tujuan menjadi penegak segala yang roboh, pelurus segala yang bengkok, pelaku perbaikan segala yang rusak, menjadi kekuatan bagi yang lemah, keadilan bagi yang teraniaya, serta tempat berlindung semua yang takut.

Kepala negara  yang adil bagaikan penggembala yang sangat kasih terhadap gembalaannya. Ia mengantarnya ke tempat rerumputan yang terbaik, menghindarkannya dari jurang  yang menjerumuskan, melindunginya dari binatang buas, serta membawanya jauh dari sengatan panas dan dingin.

Kepala negara yang adil adalah yang sekali berada di depan untuk memberi teladan, di kali lain di belakang untuk mendorong, dan di kali ketiga berada pada posisi tengah. Ini antara lain berarti bahwa ia hendaknya berada antara Tuhan dengan masyarakat yang dipimpinnya, ia mendengar firman-Nya lalu memperdengarkannya kepada mereka, ia “melihat” Allah  lalu memperlihatkan-Nya kepada mereka, ia tunduk kepada Allah lalu menundukkan masyarakatnya kepada-Nya.

Pak Jokowi dan Pak JK,

Ingatlah bahwa Allah swt. menetapkan sanksi hukum dengan tujuan menghindarkan manusia dari dosa dan keburukan, maka sungguh bagaimana jadinya jika yang diserahi mengurus manusia justru melakukan dosa dan keburukan?

Ingatlah bahwa Allah menetapkan qishash sanksi hukum dengan tujuan memelihara hidup manusia, maka bagaimana jadinya jika yang diberi wewenang menjatuhkan qishash, justru ia yang mengabaikan hak hidup manusia?

Renungkanlah tentang kematian dan apa yang sesudah kematian! Ingatlah bahwa setiap orang, walau di dunia ini mendapat dukungan yang banyak, namun kelak di akhirat ia berpotensi kehilangan pendukung. Karena itu, berbekallah sejak dini menghadapi hari esok yang menakutkan itu. Kelak Anda akan mendapatkan tempat bukan seperti yang Anda tempati di dunia ini. Bisa amat buruk, tapi bisa juga amat sangat baik.

Pak Jokowi dan Pak JK,

Janganlah menjalankan pemerintahan seperti cara orang yang jahil, jangan juga menempuh jalan yang ditelusuri oleh orang zalim. Jika kekuasan Anda mendorong Anda berbuat zalim, maka ingatlah kuasa Allah terhadap Anda. Jangan beri peluang kepada yang angkuh, jangan juga kepada penindas, karena jika ini terjadi lalu Anda biarkan, maka Anda akan memikul, di samping dosa-dosa Anda sendiri, juga dosa-dosa mereka yang Anda biarkan itu.

Jangan sekali-kali teperdaya oleh orang-orang yang memuji-muji Anda. Jangan juga dengan mereka yang berusaha meraih kenikmatan melalui kekuasaan yang Anda miliki karena mereka itu menikmati dunia mereka atas biaya hilangnya kenikmatan Anda di akhirat.

Jangan juga mata Anda tertuju kepada kekuasaan yang Anda miliki dewasa ini, tetapi arahkanlah pandangan ke hari esok ketika kita semua akan terbelenggu oleh belenggu kematian, berdiri menghadap  Allah di arena di mana tunduk semua wajah dengan rendah hati kepada Tuhan Yang MahaHidup, Kekal, lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.

Pak Jokowi dan Pak JK,

Bisa jadi pesan orang-orang bijak yang saya sampaikan ini pahit terasa, walau saya telah berusaha mengurangi kepahitannya. Namun bila kepahitan masih juga Bapak berdua rasakan, maka anggaplah ia sebagai upaya imunisasi yang membentengi Bapak berdua. Imunisasi perlu, Pak, karena di sekeliling kita bertebaran kuman dan virus yang membahayakan.

Akhirnya, doa kami antara lain adalah: Seandainya kedudukan Presiden dan Wakil Presiden yang besok Insya Allah akan Bapak emban, seandainya jabatan itu merupakan takdir yang ditetapkan Allah terhadap Bapak, maka kami berdoa semoga Allah membimbing dan memberi Bapak kekuatan untuk mengantar kami ke pulau harapan, ke cita-cita Proklamasi. Dan jika pengangkatan Bapak berdua adalah karena itu merupakan takdir kami sebagai rakyat, maka kami bermohon kiranya Allah membantu kami untuk mendukung Bapak memikul tanggung jawab yang berat itu. Shalawat dan rahmat semoga selalu tercurah kepada kita semua.

[Tausiah M. Quraish Shihab pada acara “Zikir Khatm al-Qur’an dan Tasyakuran”, Masjid Sunda Kelapa, 19 Oktober 2014]


 

Copyrights 2015 | Elha Omni Media