Puasa Mengasah Aneka Kecerdasan


22 shape Jun

Allah swt. menganugerahi setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat. Allah memperindah hal itu dalam diri setiap insan. Allah berfirman: Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak lelaki, harta yang tidak terbilang lagi berlipat ganda dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang (QS. Âli ‘Imrân [3]: 14).

Kecintaan inilah yang merupakan pendorong utama bagi segala aktivitas manusia. Dorongan ini mencakup dua hal pokok, yaitu “memelihara diri” dan “memelihara jenis”. Dari keduanya lahir aneka dorongan, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, keinginan untuk memiliki, hasrat untuk menonjol. Semuanya berhubungan erat dengan dorongan/fithrah memelihara diri, sedang dorongan seksual berkaitan dengan upaya manusia memelihara jenisnya. Itulah sebagian fithrah yang dihiaskan Allah kepada manusia. Tetapi setan dan nafsu sering kali juga memperindah hal-hal tersebut pada diri manusia, guna melengahkannya dari tugas kekhalifaan. Seks, jika diperindah setan, maka ia jadikan tujuan. Cara dan dengan siapa pun, tidak lagi diindahkan. Kecintaan kepada anak―jika diperindah setan―maka subjektivitas akan muncul, bahkan “atas nama cinta” orangtua membela anaknya walau salah, memberinya walau dengan melanggar, harta pun jika dicintakan setan maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, akan menumpuk dan menumpuk serta melupakan fungsi sosial harta.

Hawa nafsu tidak pernah puas dan selalu mengajak kepada hal-hal yang bersifat negatif. Ia bagaikan air laut, semakin diminum, semakin mengundang haus atau bagaikan eksim, semakin digaruk, semakin nyaman, tetapi kesudahannya adalah luka yang terinfeksi sehingga mengancam jiwa raga si penderita.  “Siapa yang memilih dunia dengan mengorbankan akhirat, maka dunia meninggalkannya dan akhirat pun luput darinya.” Dengan kecerdasan emosi, manusia akan mampu mengarahkan emosi atau nafsu ke arah positif sekaligus mengendalikannya sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan negatif.

Dengan kecerdasan emosi itu, manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuh dan meniadakannya. Pengendalian diri, bukan penyangkalan dan peniadaan pribadi. Emosi dan nafsu yang terkendali sangat kita butuhkan sebab ia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifaan di bumi, yakni membangun dunia sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi.

Pages: 1 2 3 4


Leave Comment

0 Comments

Leave Reply

You must be logged in to post a comment.

Leave a Reply

Copyrights 2015 | Elha Omni Media