Puasa Mengasah Aneka Kecerdasan


22 shape Jun

Kecerdasan emosi mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Itu sebabnya ditemukan dalam tuntunan Rasul saw. yang berkaitan dengan puasa. Sabda beliau yang  diriwayatkan oleh Bukhari melalui Abu Hurairah bahwa:

إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل :إني صائم (رواه البخاري)

Maksudnya: “Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata buruk, jangan juga berteriak memaki. Bila ada yang memakinya atau mengutuknya, maka hendaknya ia berucap, ‘Aku sedang berpuasa,’ yakni aku sedang mengendalikan nafsuku sehingga tidak akan berbicara atau bertindak, kecuali sesuai dengan tuntunan akal, moral, dan agama. Kecerdasan emosi menjadikan penyandangnya berbicara dan bertindak pada saat diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan serta pada waktu dan tempat yang tepat. Kecerdasan emosi mengantar Rasul saw. dan para sahabat menggunakan emosi amarah dan tampil berperang di Badar pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H/624 M  walaupun ketika itu kekuatan fisik dan senjata mereka sangat minim. Dan dengan kecedasan itu pula, Rasul saw. mempersembahkan rahmat, pemaafan konsiliasi terhadap orang-orang yang pernah memusuhi Islam. Ini juga terjadi di bulan Ramadhan tahun ke-8 H/630 M ketika beliau berhasil menguasai kota Mekkah dan dalam keadaan beliau sangat kuat.

Kecerdasan emosi yang dapat menjadikan jiwa manusia seimbang, keseimbangan yang dapat menjadikannya berpikir logis, objektif, bahkan memiliki kesehatan dan keseimbangan tubuh. Siapa yang berfungsi dengan baik kecerdasan emosi dan spiritualnya, maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari segala maksud buruk.

Kecerdasan ketiga yang kita butuhkan adalah kecerdasan intelektual. Jika kecerdasan ini tidak dibarengi dengan kedua kecerdasan di atas, maka manusia, bahkan kemanusiaan seluruhnya, akan terjerumus dalam jurang kebinasaan. Ia akan menjadi seperti kepompong yang membakar dirinya sendiri karena “kepintarannya”. Harus diingat bahwa kebodohan bukanlah sekadar lawan dari banyaknya pengetahuan karena bisa saja seseorang memiliki informasi yang banyak, tetapi apa yang diketahuinya tidak bermanfaat baginya. Karena itu, pesan Luqman as. Kepada anaknya: “Anakku! Tidak ada baiknya mempelajari apa yang belum engkau ketahui selama engkau belum memanfaatkan apa yang telah engkau ketahui. Ini seperti pengumpul kayu yang tak mampu memikulnya, tetapi ia menambah lagi kayu yang lain untuk dipikulnya.” Pengetahuan adalah nur, cahaya yang dicampakkan Allah ke hati siapa yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Di sisi lain, perlu diingat bahwa kemajuan ilmiah satu bangsa tidak diukur dengan banyaknya alat-alat atau canggihnya laboratorium yang mereka miliki, tetapi bagaimana alat-alat itu mereka gunakan untuk memperoleh rahasia alam raya dan menggali kekayaan alam, bahkan kepemilikan alat-alat itu dan―jika bersumber dari bangsa lain, baik karena pembelian maupun hibah―sama sekali tidak dapat dijadikan ukuran kemajuan walau ia telah digunakan dengan baik. Yang maju adalah pencipta alat-alat itu. Memang teknologi bukanlah alat-alat yang telah diproduksi, tetapi sistem dan metode yang melahirkan alat-alat itu. Karena itu pula, kemajuan ilmu bersyarat dengan adanya iklim yang mendorong terciptanya keinginan untuk melakukan penelitian dan pengembangan, dan inilah pada hakikatnya yang dilakukan oleh kitab suci al-Qur’an.

Pages: 1 2 3 4


Leave Comment

0 Comments

Leave Reply

You must be logged in to post a comment.

Leave a Reply

Copyrights 2015 | Elha Omni Media