Timur dan Barat di Era Globalisasi*


30 shape Jun

Dahulu orang berkata, “Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat. Keduanya tidak dapat bertemu.” Bisa jadi ungkapan ini ada benarnya sebelum era globalisasi, tetapi kini tidak lagi karena globalisasi telah mengubah banyak hal, termasuk ide dan pengertian-pengertian sehingga ungkapan tersebut mestinya dewasa ini tidak lagi memiliki dasar. Bisa jadi dahulu ungkapan itu memiliki dasar bagi mereka yang mengarahkan pandangan kepada tokoh-tokoh ternama di Timur dan Barat sambil memperhatikan kecenderungan dan kegiatan mereka. Memang tidak akan terlintas dalam benak ketika menyebut nama-nama populer di Timur, seperti Confucius, Mahabharata, Buddha, kecuali nilai-nilai spiritual, sedang bila disebut nama-nama populer di dunia Barat, seperti Plato, Socrates, Aristoteles, maka yang muncul adalah karya-karya filsafat yang berlandaskan pemikiran akliah. Bisa jadi juga ungkapan di atas lahir setelah menyadari bahwa orang Timur biasanya melukiskan buah pikirannya dengan berkata, “Saya rasa…,” sedang orang Barat berkata, “Saya pikir….” Orang Barat membuktikan wujudnya melalui pikirannya sehingga Descartes berkata, “Saya berpikir jadi saya ada.

Betapapun, ide tentang tidak bertemunya Barat dan Timur merupakan ide yang usang. Kini di masa globalisasi ini, kita berkewajiban membangun jembatan untuk mempertemukannya, mempertemukan akal dan jiwa serta pemikiran dan rasa. Dahulu di Alexandria, Mesir, melalui Filsafat Neo-Platonisme telah lahir hasil-hasil pemikiran yang memadukan antara akal dan jiwa.

Konon perjalanan Alexander the Great ke Timur dan ke Barat bertujuan memadukan keduanya, hanya saja upaya tersebut lebih banyak dalam bentuk ekspedisi fisik, bukan dalam bentuk pertemuan ide.

Pages: 1 2 3


Leave Comment

0 Comments

Leave Reply

You must be logged in to post a comment.

Leave a Reply

Copyrights 2015 | Elha Omni Media