Timur dan Barat di Era Globalisasi*


30 shape Jun

Islam atau katakanlah agama yang dibawa oleh para Nabi pada hakikatnya bertujuan memadukan keduanya atas dasar bahwa agama diturunkan untuk manusia, sedang manusia adalah gabungan dari ruh Ilahi dan debu tanah dalam kadar-kadar tertentu.

Bukanlah maksud upaya kita membangun jembatan untuk mempertemukan Timur dan Barat untuk menghapus perbedaan-perbedaan kita atau mengingkarinya karena tidak ada hak bagi satu negara atau bangsa, apalagi perorangan atau organisasi, untuk memaksakan pendapat atau keinginannya. Setiap bangsa, setiap kelompok orang pada masyarakat apa pun merasa terhormat dengan nilai-nilai dan moralitasnya, dengan keimanan dan budayanya, betapa besar pun perbedaannya atau bahkan betapapun bertolak-belakangnya dengan pihak-pihak lain dan betapa besar pun penolakan pihak lain terhadap mereka. Ini karena manusia masa kini hidup di era globalisasi dengan hak-hak asasi manusia serta hak-hak untuk bersuara, tetapi hak-hak yang diakui itu tidak boleh menjadikan siapa pun berhak mengecam, merendahkan, dan mengejek kepercayaan, budaya, dan prinsip-prinsip pihak lain.

Izinkanlah saya membacakan beberapa ayat al-Qur’an. Allah berfirman memberi tuntunan kepada seluruh kaum Muslim kapan dan di mana pun mereka berada: Janganlah kamu memaki orang-orang yang menyembah selain Allah, sehingga mereka pun memaki Allah melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami memperindah bagi setiap umat amal perbuatan mereka (QS. al-An’am [6]: 108). Terlihat dari teks tersebut bahwa kendati kaum Muslim percaya tentang keburukan penyembahan berhala dan penyimpangannya yang sangat jelas dari akal yang sehat, namun Allah melarang umat Islam memakinya karena para penyembah berhala itu menilai baik amal mereka.

Selanjutnya, kendati setiap agama―termasuk agama Islam―menuntut pemeluknya agar percaya sepenuh hati tentang kebenaran agama yang dianutnya. Namun demikian―demi hidup bersama dalam kedamaian―kitab suci umat Islam memerintahkan pemeluknya untuk mengembalikan putusan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah kepada Tuhan Yang Maha Esa di hari kemudian. Dalam konteks ini, Allah berfirman: Katakanlah, Kami orang-orang beriman dan kalian orang-orang musyrik berada pada dua pilihan: petunjuk kesesatan yang nyata. Katakan kepada mereka, “Kalian tidak akan ditanya tentang dosa-dosa kami, dan kami pun tidak akan ditanya tentang dosa-dosa kalian.” Katakan pula kepada mereka, “Pada hari kiamat nanti, Allah akan menghimpun kita dan akan memberikan keputusan antara kita secara adil. Dialah yang Maha Memutuskan segala persoalan dan Mahatahu akan kebenaran di antara kita (QS. Saba’ [34]: 27].

Demikianlah, setiap umat atau masyarakat memiliki kepercayaan, adat istiadat, dan budaya yang seyogianya dihormati walau penghormataan tersebut bukan berarti membenarkan atau menerimanya.

Bersambung…

*Uraian ini asalnya adalah makalah yang penulis sampaikan pada Konferensi Internasional tentang “East and West: Dialogue between Civilizations? Timur dan Barat Menuju Dialog Peradaban” yang diselenggarakan oleh Comunità Sant’Egidio Florence, Italia, bekerja sama dengan Majelis al-Hukama al-Muslimin pada tanggal 8-9 Juni 2015.

Pages: 1 2 3


Leave Comment

0 Comments

Leave Reply

You must be logged in to post a comment.

Leave a Reply

Copyrights 2015 | Elha Omni Media