AkhlakAqidah

Charlie Hebdo

Serangan terhadap kantor Charlie Hebdo di Paris yang menewaskan 12 orang, menghebohkan dunia. Berbagai tanggapan muncul terhadap peristiwa tersebut. Ada yang merasa bahwa itu adalah balasan setimpal atas pelecehan majalah tersebut dengan karikaturnya terhadap Nabi Muhammad saw. Namun tidak sedikit yang mengecam serangan itu sambil mengingatkan standar ganda dunia Barat yang diam seribu bahasa terhadap teror dan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel terhadap orang-orang di Palestina.

Tokoh-tokoh Islam yang mengecamnya mengingatkan bahwa bukan demikian cara yang diajarkan al-Qur’an menghadapi para peleceh dan pengejek Nabi saw. Al-Qur’an mengingatkan bahwa: “Sungguh kamu akan diuji menyangkut harta kamu dan diri kamu. Dan kamu sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 189). Tuntunan ini ditujukan kepada umat Islam kapan pun dan di mana pun.

Sabar adalah “menahan gejolak nafsu demi meraih yang baik atau yang lebih baik”. Menahan gejolak itu antara lain untuk mempertimbangkan apakah pembalasan yang diambil setimpal dengan pelanggaran dan apakah ia berdampak baik atau buruk.

Tentu saja perintah bersabar bukannya berarti menerima pelecehan, tetapi ia berarti memaafkan kalau wajar dimaafkan atau menangguhkan pembalasan untuk memberi kesempatan si peleceh menyadari kekeliruannya dan atau menangguhkannya ke waktu yang lain yang lebih tepat agar tidak timbul dampak negatif akibat pembalasan itu–yakni dampak yang lebih buruk daripada pelecehan.

Memang, sabar tidaklah mudah di saat gejolak nafsu, apalagi jika yang dilecehkan adalah sosok yang sangat dihormati. Karena itu, ayat di atas menyatakan bahwa sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 189).

Beginilah sikap Nabi saw. ketika menghadapi aneka pelecehan dan makian. Ketika ‘Abdullah bin Ubay bin Salul yang dikenal sebagai tokoh munafik melakukan aneka kejahatan terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw., sekian banyak sahabat beliau yang mengusulkan agar ‘Abdullah dijatuhi hukuman mati. Namun beliau menolak dengan bertanya (alasan): “Apa yang akan dikatakan orang? Orang akan berkata–lanjut beliau-bahwa “Muhammad membunuh sababatnya sendiri.”

Di sini yang menjadi pertimbangan beliau adalah “image” orang terhadap Islam dan Nabinya saw. Sungguh tepat yang menilai bahwa pelecehan karikatur Charlie Hebdo amat buruk dan wajar dikecam oleh setiap yang berakal. Tetapi, yang lebih buruk lagi adalah penyerangan kantor majalah tersebut, karena ia bukan saja menimbulkan korban yang boleh jadi tidak bersalah, atau tidak wajar di hukum mati, tetapi penyerangan itu telah memperburuk “image” Islam di mata orang-orang yang tidak mengerti.

Ketika ‘Abdullah bin Ubay menyebarkan isu yang mencermarkan nama baik istri Nabi saw. Aisyah ra., turun ayat yang membersihkan nama baik Aisyah ra. (QS. an-Nur). Al-Qurthuby (wafat pada 671 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa beberapa orang yang ikut aktif menyebarkan rumor itu, dijatuhi hukuman cambuk, sedang sumber rumor, yakni ‘Abdullah Ibnu Ubay tidak dijatuhi sanksi. Salah satu alasannya–menurut al-Qurthuby- adalah agar siksaannya di akhirat lebih berat lagi. Terlepas apakah itu alasannya atau bukan, namun menangguhkan jatuhnya sanksi merupakan salah satu yang dapat dibenarkan kalau penjatuhannya menimbulkan dampak lebih buruk.

Ketika Nabi saw. disakiti dan dilecehkan di Thaif oleh suku Tsaqif dengan pelecehan yang luar biasa, Malaikat Jibril datang menawarkan pembalasan dengan membinasakan suku itu. Namun, Rasul saw. menolak sambil berkata: “Aku mengharap ada dari anak cucu mereka yang kelak memeluk Islam dan membelanya.” Harapan Nabi saw. dikabulkan Allah.

Ini serupa dengan Arnoud Van Doorn yang menyebarkan filmnya “Fitna” beberapa tahun yang lalu. Politisi Belanda itu, setelah mempelajari Islam, akhirnya menyesali perbuatannya dan memeluk Islam serta berkunjung ke Mekkah dan Madinah. Memang, “yang mengenal Nabi Muhammad saw. tidak hanya sekadar akan kagum kepada beliau, tetapi juga akan memercayainya sebagai utusan Tuhan,” demikian Annie Besant, salah seorang wanita theosophist Inggris (w 1933 M).

Karena itu, boleh jadi kita juga memiliki kesalahan karena tidak mampu memperkenalkan Islam secara baik, bahkan terjadilah apa yang ditegaskan oleh Syaikh Muhammad ‘Abduh salah seorang pembaharu di Mesir (w . 1905 M) yang menyatakan bahwa: “Keindahan Islam tertutupi oleh kaum muslimin sendiri.” Demikian, Wa Allah A’lam.